Ikhlas secara defiinisi berarti ketulusan (sesuatu yang murni yang tidak ditimpahkan dengan sesuatu yang lain). Ikhlas merupakan syarat mutlak untuk beribadah selain mutabaah (mengikuti). Sesuai dengan hadits
Sunan Nasa'i 3089: Telah mengabarkan kepada kami [Isa bin Hilal Al Himshi], ia berkata: telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Humair], ia berkata: telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin Sallam] dari ['Ikrimah bin 'Ammar] dari [Syaddad bin Abi 'Ammar] dari [Abu Umamah Al Bahili], ia berkata: telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ia tidak mendapatkan apa-apa, " lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: "Ia tidak mendapatkan apa-apa". Kemudian beliau bersabda: " Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajahNya." (HR. An-Nasa’i: 3089)
Lawan dari ikhlas adalah riya’ dan ujub. Riya’ adalah menghiasi atau memperindah ibadah karena makhluk. Riya’ merupakan bagian dari dosa besar. Riya’ akan digunakan oleh syaitan disetiap ibadah kita pasti akan terlintas riya’. Sedikit saja riya’ sudah bisa syirik kepada Allah. Sedangkan Ujub adalah membangga-banggakan ibadah yang pernah dibuat.
Zubaidah (istri kharun rasyid) orang yg terkenal punya kelebihan fisik, kaya raya dan suka ibadah (jihad, sedekah, dll). Salah satu peninggalan zubaidah yang masih bisa dilihat sampai sekarang adalah benteng/tembok di gunung batu (dari arafah menuju musdalifah) yang digunakan untuk menampung air zam-zam untuk jamaah haji. Tersebar berita pada saat itu bahwa zubaidah akan masuk surga dengan perbutannya ini. Ponakannya mimpi (dengan hikmah allah) apa yang Allah balas? Semua irak berbicara tentang kamu pasti masuk surga. Zubaidah menjawab semuanya 0 (termasuk bantu keluarga, haijkan orang, bantu pasukan jihad dan tempat minum yang dibuat di arafah). Lalu bagaimana keadaanmu? Allah mengampuni saya dengan sholat malam saya kerjakan tidak ada orang yang tau
AYAT KE-1
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ ٥ (٥)
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar) (QS. Al-Bayyinah [98]:5)
Ini merupakan dalil wajibnya niat. Ikhlas tidak mungkin terjadi tanpa niat, ini madhab mayoritas ulama. Semua orang yang beriman tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlasnya agama atau ketaatan kepada-Nya.
AYAT KE-2
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ… (٣٧)
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. … (QS. Al-Hajj [22]:37)
Ayat ini memberikan gambaran terkait pentingnya mengarahkan niat kepada Allah. Dalam HR Muslim: 4651 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.". Seperti bagaimana Allah memuliakan bilal (berkulit hitam). Nabi Muhammad SAW sudah diperdengarkan suara terompah sandal bilal di surga sementara bilal masih hidup.
Cara menjaga keikhlasan dengan Allah adalah dengan tidak menceritakan ibadah atau amal kita kepada orang lain. Ada beberapa kisah contoh ada pasangan suami istri dimana sang suami selalu puasa senin-kamis tapi tidak diketahui istrinya selama 20 tahun. Setiap hari senin dan kamis sang suami meminta untuk membungkuskan bekalnya dan ketika sampai ditempat kerja dia memberikan bekal itu kepada orang lain. Ada juga kisah tenatng tabiin terkenal yang selama 25 tahun dia senantiasa membagikan 100kg gandum di waktu setelah sholat malam dan sholat subuh, Tidak ada orang yang mengetahuinya sampai beliau meninggal
AYAT KE-3
قُلْ إِن تُخْفُوا۟ مَا فِى صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ… (٢٩)
Katakanlah, "Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya." … (QS. Ali Imran [3]:29)
Ini menunjukan apapun yang kita sembunyikan atau apapun yang kita terang-terangkan Allah tahu. Hal ini menunjukan tanpa kita cerita ke orang Allah sudah tahu. Pujian dan ancaman orang hanya sepanjang lidahnya, tidak ada yang kita dapatkan dari pujian tersebut. Pujian justru akan merusak bahkan dalam Islam dilarang memuji saudara kita apalagi dalam ibadah. Ada kisah sahabat nabi yang ingin memuji sahabat lainnya karena khusyu’ nya shalatnya kemudian nabi mengatakan “kalau kau ucapkan didepannya kau akan menghancurkan hidupnya”
HADIST 1
صحيح البخاري ١: حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Shahih Bukhari 1: Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair] dia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] yang berkata: bahwa Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id Al Anshari] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ibrahim At Taimi], bahwa dia pernah mendengar [Alqamah bin Waqash Al Laitsi] berkata: saya pernah mendengar [Umar bin Al Khaththab] diatas mimbar berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan, Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR. Al-Bukhari:1) (indo)
Asbabul wurud dari hadits ini adalah ada percakapan 2 sahabat nabi ketika akan hijrah dari mekah ke madinah. Yang satu akan mencari harta (membuka usaha di madinah karena hartanya di mekah diambil oleh orang kafir qurais) dan yang lainnya akan mencari istri (karena istrinya kafir). Ketika terdengar oleh rasullah tersebutlah haditst ini yang mengatakan akan dapat yang dia inginkan tapi tidak ada pahala hijrah. Beberapa pelaharan yang bisa diambil dari hadist ini adalah
Semua orang harus mengikhlaskan niat ibadah karena Allah
Semua ibdaah harus ada niat, tidak sah apabila tidak ada niat
Semua ibadah yang diikuti dengan niat, niatnya didalam hati. Ada beberapa khilaf dalam ulama, Jumhur ulama mengatakan ada yg berpendapat niat cukup dalam hati. Tidak ada hadist yang mencontohkan nabi melafalkan niatnya. Tetapi, Sebagian ulama-ulama yang menisbatkan diri dalam syafiiah (pengikut imam syafii (Al Azar)) niat dalam hati harus dikuatkan lagi dengan lisan, mereka yang menyusun niat seperti usoli tapi tidak ada hadist. Niat dalam hati tanpa lisan sah tapi kalau niat dengan lisan tapi hati engga tidak sah
Hijrah (berpindah tempat dari tempat buruk ke tempat baik) hukumnya wajub apabila sebagai muslim tidak bisa beribadah seperti nabi dan sahabat dimekah yg tidak bisa beribadah dengan lancar di mekah. Allah menjanjikan bagi orang yan hirah rizki yg luas. Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Q.S An Nisa [4]: 100
HADIST 2
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ قَالَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah telah menceritakan kepada kami [Ima'il bin Zakariya] dari [Muhammad bin Suqah] dari [Nafi' bin Jubair bin Muth'im] berkata: telah menceritakan kepada saya 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan ada sepasukan tentara yang akan menyerang Ka'bah. Ketika mereka sampai di Baida' di suatu bumi, mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir." 'Aisyah berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir sedangkan didalamnya ada pasukan perang mereka dan yang bukan dari golongan mereka (yang tidak punya maksud sama)?" Beliau menjawab: "Mereka akan ditenggelamkan seluruhnya mulai orang yang pertama hingga yang terakhir kemudian mereka akan dibangkitkan pada hari qiyamat sesuai dengan niat mereka masing-masing." (HR. Al-Bukhari:2118) (english) (indo)
barang siapa yang meramikan satu perbuatan kemaksiatan, barang siapa yang memperbanyak perkumpulan orang yang berada dalam kemaksiatan secara sukarela (diskotik) maka hukuman bisa mengenainya. karena masyarakat tersebut tidak ingkar mungkar. semua akan terkena terlebih dahulu kemudian dibangkitkan seusai dengan niat masing-masing. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S Hud [11]: 117)
HADIST 3
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ لَا هِجْرَةَ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
Telah bercerita kepada kami [Adam bin Abi Iyas] telah bercerita kepada kami [Syaiban] dari [Manshur] dari [Mujahid] dari [Thawus] dari Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda pada saat hari Pembebasan Makkah: "Tidak ada lagi hijrah, akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat. Maka bila kalian diperintahkan berangkat (berperang) maka berangkatlah". (HR. Al-Bukhari:3900) (english) (indo)
Ini berkaitan dengan kisah nabi muhammad yang menaklukan kota mekah tanpa perlawanan dengan 10.000 pasukannya. Penduduk mekah tidak boleh lagi hijrah ke madinah. Ini juga berlaku hukumnya untuk wilayah2 yang ditembus kaum muslimiin. Artinya tidak ada kewajiban hijrah apabila ditempat tersebut kaum muslimin sudah bisa melakukan ibadah dengan nyaman
HADIST 4
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمْ الْمَرَضُ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ إِلَّا شَرِكُوكُمْ فِي الْأَجْرِ
Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Abu Sufyan] dari [Jabir] dia berkata."Kami pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan, ketika itu beliau bersabda: "Ada beberapa orang laki-laki di Madinah yang mereka tidak ikut serta dalam peperangan, biasanya jika kalian pergi berperang sedangkan kalian melewati suatu lembah, mereka tetap turut bersama-sama kamu, namun mereka sekarang terhalang karena sakit." Dan telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Abu Mu'awiyah]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Abu Sa'id Al Asyaj] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami [Waki']. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] telah mengabarkan kepada kami [Isa bin Yunus] semuanya dari [Al A'masy] dengan sanad ini, namun dalam haditsnya Waki' disebutkan: "Melainkan mereka juga mendapatkan pahala seperti kalian." (HR. MuslimL1911) (english - a) (english - b) (indo)
Hadits ini berkaitan dengan perang badar (Tafsir QS. Al-Anfal), ada beberapa kelompok di Madinah yang tidak ikut perang etapi mereka mendapatkan pahala yang sama dengan sahabat yang ikut perang karena mereka tertahan sakit (ada udzur). Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita setiap muslim perlu memiliki niat dalam setiap kegiatan. Karena apabila kita sudah berniat (misal niat shalat tahajud) tapi ada udzur kita tidak bisa melakukan kita tetap akan mendapatkan pahala
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَدَنَا مِنْ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ قَالَ وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Muhammad] Telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] Telah mengabarkan kepada kami [Humaid Ath Thawil] dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala kembali dari perang Tabuk dan sudah mendekati Madinah, beliau bersabda: "Sesungguhnya di dalam Madinah itu ada sekelompok kaum, yang tidaklah kalian menempuh perjalanan dan tidaklah kalian menyebrangi lembah kecuali mereka diikutsertakan bersama kalian dalam ganjaran." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, (bukankah) mereka (hanya) berada di Madinah?" Beliau menjawab: "Mereka di Madinah karena mereka terhalangi oleh udzur." (HR. Al-Bukhari:2839)
Hadits ini mirip dengan hadits sebelumnya tapi untuk case setelah perang tabuk
HADIST 5
حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ الْمِقْدَامِ وَمُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي الْجُوَيْرِيَةِ أَنَّ مَعْنَ بْنَ يَزِيدَ حَدَّثَهُ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَبِي وَجَدِّي وَخَطَبَ عَلَيَّ فَأَنْكَحَنِي وَخَاصَمْتُ إِلَيْهِ فَكَانَ أَبِي يَزِيدُ خَرَجَ بِدَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ فِي الْمَسْجِدِ فَأَخَذْتُهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ وَاللَّهِ مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ بِهَا فَخَاصَمْتُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ وَلَكَ يَا مَعْنُ مَا أَخَذْتَ
Telah menceritakan kepada kami [Mush'ab bin Al Miqdam] dan [Muhammad bin Sabiq] berkata: telah menceritakan kepada kami [Isra'il] dari [Abu Al Juwairiyah] [Ma'n bin Yazid] menceritakannya, berkata: saya berbaiat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersama bapakku dan kakekku. (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) melamarkan untukku dan menikahkanku. Suatu ketika saya melapor kepada beliau, bapakku, Yazid keluar dari rumah dengan membawa beberapa dinar untuk bersedekah dengannya, dia meletakkannya di samping seorang laki-laki di masjid. Saya datang dan mengambil dinar tersebut, dan membawanya kembali kepadanya. Dia berkata: Demi Allah, saya tidak bermaksud untuk bersedekah kepadamu. Saya laporkan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Kamu mendapatkan pahala seperti yang kamu niatkan Wahai Yazid, dan kamu Ya Ma'n, kamu mendapatkan apa yang telah kau ambil". (HR. Al-Bukhari:1422) (english) (indo)
-----
Main Reference
Riyadhush Shalihin #1 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 1) | Ust. Khalid Basalamah
Riyadhush Shalihin #2 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 2) | Ust. Khalid Basalamah
Riyadhush Shalihin #3 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 3) | Ust. Khalid Basalamah
Riyadhush Shalihin #4 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 4) | Ust. Khalid Basalamah
Riyadhush Shalihin #6 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 6) | Ust. Khalid Basalamah
Riyadhush Shalihin #7 - Ikhlas dan Menghadirkan Niat (Part 7) | Ust. Khalid Basalamah
Supporting Reference
Al Qur'an: quran.com
Hadits: sunnah.com & hadits.tazkia.ac.id